
Senja bertabur pendar warna jingga
Udara dingin mulai menyergah dengan jumawa
Musim sedang tak berpihak pada kita
Kering, tak ada hujan menghujam
Dan kau mulai meranggas perlahan
Aku lihat, kau masih mencengkeram erat di sana
Bumi lusuh berselimut debu ringan
Di sana kau tempatkan segala harapan
Atas kelangsungan kemesraan kita
Sekuat tenaga kau pertahankan
Namun satu satu aku pun berjatuhan
Seraya disapu angin yang tak lembut perangainya
Tapi aku tahu, bahwa acap kali kau sadar
Anginlah yang merenggutku darimu
Merenggut paksa dan kau diamkan begitu saja
‘Ikutlah denganku, aku akan membawamu pergi ke tempat yang lebih baik’,
Bisik angin padaku seolah menyambut perlakuanmu padaku
‘aku tak mau, jiwaku masih ada padanya’,
tolakku pada angin, karna rasaku padamu masih meraja
‘apa yang kau harapkan dari si tua kering macam dia?’
‘Ikutlah denganku, akan aku bawa kau bertualang menjelajah negeri luas ini’
‘kau terlalu berharga untuk hanya tinggal diam di sini’
‘rasamu padanya hanya akan membuatmu ketergantungan’
‘dan akhirnya mati bosan’
‘sesalmu pasti akan datang di belakang’
‘Tak percayakah kau dengan apa yang aku ucapkan?’
Kenapa kau diam saja?
Tak bisakah kau marah padanya?
Pada angin yang dengan lancang merayuku?
Atau ini wujud kepasrahanmu?
Ah, sudahlah. Percuma kurasa.
Mungkin pikirmu tak sejauh itu
Rasamu padaku hanya sesaat
Mungkin di benakmu, tak apalah aku gugur
Toh Musim depan kau akan mendapatkan daun yang baru
Yang lebih muda dan juga segar
Di Musim semi,
Musim yang selalu ku benci
antara mereka : Pohon , Daun dan Angin
Candra Aji, Maret 2012
-7.800000
110.400000
Like this:
Be the first to like this post.